Kukira Kau Rumah

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤKukira Kau Rumah

"Pendakian imajinasi para
manusia yang selalu
mengharapkan tempat
lindung dari manusia lainnya.

Tempat bersua, berbicara
empat mata, bertatap
bermesra ria. Namun ada
kalanya rumah terarif
itupun jatuh."

Bak angin menerpa membuat Dala runtuh
dan rapuh. Kilas balik sebagaimana
telah dileburkan dalam satu karya utuh.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ  ㅤㅤㅤㅤ— A songfict based on
ㅤㅤㅤㅤㅤ  ㅤㅤㅤㅤ   Kukira Kau Rumah, Amigdala.

ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ──────────────────

Sisa beberapa menit lagi untuk sang rawi tiba di kaki langit, sorot lembayung yang keemasan membias di paras gadis lesu yang berjejak di atap gedung apartemen. Surai panjangnya beterbangan mengikuti embus anila, sorot matanya kosong tanpa cahaya, seolah tiada kehidupan disana bahkan lukisan langit disudut cakrawala tidak menarik perhatiannya. 

Perlahan peran sang surya digantikan oleh rembulan yang begitu indah, diikuti oleh pijar bohlam jua lampu kendaraan yang menari-nari. Semuanya ia saksikan dari atap gedung, siang berganti malam dan dunia tetap berjalan, seperti biasanya. Meskipun dunia tahu, tak semua malam umatnya bisa berjalan sebagaimana indahnya.

"Bahkan kehidupan tetap berjalan dengan baik meskipun hidupku runtuh ya," gumamnya pelan lantas menarik langkah mendekati bagian ujung atap, bunyi klakson dan mesin kendaraan bersahut-sahutan, bahkan ia bisa mendengar gelak tawa bahagia entah darimana asalnya. Aksa legamnya menatap kebawah pikirannya terus berbisik, 'ini saat yang tepat untuk pergi.' Tinggal selangkah lagi– hingga ia mendengar suara berat menginterupsinya, langkahnya urung untuk bergerak melanjutkan apa yang dilakukan.

"Kalau jatuh sakit lho, Mbak?" Ucap seorang taruna yang entah sejak kapan berdiri lima meter disampingnya. Ah entahlah, gadis itu tidak peduli. "Nggak sakit kalau langsung mati." Ia edarkan kembali tatapannya kebawah gedung tanpa tahu dengan lelaki yang tengah menikmati hisapan demi hisapan batang nikotin di tangan kanannya. 

Lelaki itu terdiam sejenak setelah mendengar kalimat yang terlontar dari birai pucat gadis itu, dihabiskannya sisa sigaret lantas menginjaknya. 

"Kamu tim bubur ayam diaduk atau nggak diaduk?" Gadis itu mengalihkan pandangan, mengerutkan alis dan menatap sang lawan bicara dengan penuh tanya. Sebab, ucapan lelaki kumal itu sama sekali tidak berkorelasi dengan situasi saat ini. Sejenak ia menilai lelaki itu tidak peka. 

Tapi ya sudahlah ia jawab saja. "Saya suka bubur yang nggak diaduk." 

Lelaki itu mengangguk, lantas mendekat dua langkah kearahnya. "Kalau begitu, besok sarapan bubur ayam langganan saya, enak lho. Kamu tinggal di gedung ini kan? Besok saya tunggu jam tujuh pagi di depan pintu utama." Deret kalimat itu keluar dari lisannya, seolah tidak membutuhkan penolakan. Sementara sang puan masih mencerna maksud kalimatnya. 

"Saya Amig, kamu?" Taruna itu mengajak berkenalan walau tanpa jabat tangan, sesaat gadis lesu itu terpesona akan senyuman milik taruna itu yang terlampau rupawan. "Dala." Jawabnya singkat.

Taruna itu tersenyum lagi dengan sorot samar di bawah cahaya yang remang. "Besok pagi saya tunggu. Jadi jangan mati dulu ya, Dala." Nada bicaranya terlampau tenang bak anila sore ini. Tanpa menunggu jawaban Dala, raga lelaki itu sudah menghilang dari balik pintu. Meski begitu gadis itu tidak peduli, untuk apa ia mengikuti ajakan orang asing? 

Namun akhirnya Dala memutuskan untuk datang menemui lelaki asing itu. Ia salah menduga jika lelaki itu hanya membual perihal ajakan. Sungguh, lelaki itu telah menunggunuya di depan pintu utama. Samar ia ingat nama lelaki itu. Amig, nama yang dianggap cukup unik olehnya.

Amig tersenyum. Kurvanya melengkung sebagaimana mestinya, menampilkan senyum yang sama seperti petang kemarin. Amig mengulurkan lengannya– bermaksud mengacak pucuk kepala Dala, hingga membuat si pemilik kepala tercenung seolah merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan dari telapak tangan Amig. 

Sejak sarapan bersama pagi itu, Amig dan Dala menjadi sesekali menghabiskan waktu bersama. Membuat Dala melupakan rasa sesak yang mengganggu dan lebih bersyukur atas kehidupan yang ia miliki sekarang, semua itu berkat Amig. Menjadi sebuah insan yang bersatu dengan penuh kehangatan memang candu, tanpa tahu bahwa itulah awal dari pahitnya segala rasa di relung hati.

Waktu selalu berjalan, mendaki masa bersama. Tak terasa mereka semakin dekat. Sisi Amig yang selalu membuat Dala nyaman, tak bisa dicekat oleh pihak manapun. Bagi Dala, Amig adalah rumahnya. Rumah yang paling arif sepanjang hidupnya. Kala mereka bersenang, saling melupakan apa yang tengah mengusik ramai pikiran mereka masing-masing, saling menguatkan, dan saling berpulang.

Sejatinya, Dala telah jatuh dalam perangkap yang luar biasa sulit untuk dilepaskan. Namun tak apa, ia tak terlalu memikirkan itu. Ia lebih memilih mengesampingkan itu semua dan tetap pada zona nyamannya. Dala tetap nyaman dengan hubungan mereka, tanpa ada keterikatan nyata.

Dekat, namun tak ada hubungan apapun yang mengikat. 'Mungkin Amig tidaklah memiliki seorang pujaan di hatinya', setidaknya isi pikiran Dala kala itu. Melihat perlakuan manis yang diberikan oleh Amig kepada puan bersurai panjang itu– Dala, membuatnya berpikir bahwa Amig pun menganggapnya sama seperti Dala melihat sosok Amig di kehidupannya yang begitu runyam saat ini.

ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ──────────────────

"Kamu adalah rumahku, Amig. Bisa nggak kamu tetap di sini?" Tanya Dala dengan cekat pada Amig. 

"Kamu juga. Saya adalah rumah kamu, kamu adalah rumah saya. Apa itu cukup adil buat kamu, Nona Manis?" Umpan tanya Amig dengan sedikit panggilan manis sekaligus menjawab pertanyaan Dala. Dala hanya bisa tersipu malu engan semburat merah yang meledak-ledak dalam dirinya. Sesekali mengalihkan pandangannya guna tak menatap netra lekat lelaki itu yang tengah memberi tatapan tulus sepanjang masa. 

ㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ──────────────────

Hari berganti esok, ketika mereka berdua telah mengikrarkan kalimat manis itu. Harapan Dala yang memupuskan keinginannya sendiri.

Euforia semalam masih berdampak besar pada dirinya. Cerah ukir senyumnya menjadi bukti dalam hal itu. Hingga ketika Dala hendak menghampiri Amig dengan membawa sewadah kue kering di tangan kanannya, begitu hancur ketika melihat Amig tengah mencium kening sosok perempuan lain. Sosok yang sama sekali tak diketahui selama ini keberadaannya. Lain halnya dengan Amig– yang memang sudah memiliki seorang kekasih, rupanya. 

Ia runtuh, ia hancur. Rumah yang ia dambakan, bukanlah rumah yang ia harapkan. "Tuhan, bagaimana ini? Apa salahku hingga Engkau menghantarkan rumah yang ternyata hanya ada di bayang-bayanganku saja?" 

Sejenak Dala berpikir, apa Tuhan begitu membencinya? Apa perasaan dikasihi oleh sang pujaan ini benar-benar sebegitu tidak pantas untuknya? Terlalu menyakitkan. Bahkan untuk sekedar menghirup oksigen pun sesak rasanya. Bak empedu dengan asamnya, yang membantu namun begitu sakit ketika dikeluarkan. Begitulah, mau tak mau ia terima kenyataan itu.

Perlahan-lahan Dala berpikir. Ia meminta maaf kepada Tuhan karena telah menyalahkan-Nya. Sejatinya rumah paling arif bukanlah pada manusia lain, melainkan dirinya sendiri– setelah dengan Tuhan.

Bagaimana ia mengambil sebuah kisah pelajaran yang begitu indah. Kini ia tahu, apa yang sebenarnya didambakan manusia tak tentu akan berakhir sama dengan angannya. Amig memang salah. Telah memberi secercah harap dan rasa nyaman pada Dala tanpa kesetiaan. Namun Dala, jauh lebih salah karena memilih untuk tetap bersiteguh pada sosok yang rupanya adalah bajingan kecil. Egonya terlalu besar menahan seorang manusia, hingga terkadang terbesit jika ia seorang yang bodoh.

ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ──────────────────

Sore hari hadir dengan atmosfer yang berbeda dibanding sebelumnya. Baskara yang tak melukiskan jingganya di kaki langit, dengan kelabu yang menggantikan perannya memenuhi bumantara– mungkin sebentar lagi awan kelam akan mengeluarkan tangisnya.

Namun itu tidak mengurungkan niat Amig untuk menikmati sigaret yang menjadi candunya, menghabiskan sore di atap gedung apartemen yang entah sejak kapan menjadi tempat kecintaannya untuk sekadar menenangkan diri. 

"Kalau jatuh nanti sakit lho, Mig?" Suara gadis yang sudah terdengar familiar baginya menginterupsi, Amig tersenyum samar, "saya disini bukan mau cari mati kok." Amig mengalihkan pandangannya pada Dala yang sudah berdiri disampingnya. 

"Rokok terus, nggak sehat!" Dala memperingatkan, sedikit jengah dengan kebiasaan lelaki satu ini. Amig menebalkan telinganya sembari kembali pada fokusnya menghembuskan asap penuh nikotin. "Saya lagi cari kenikmatan, bukan kesehatan," Ucapnya santai, tidak sadar akan lirikan tajam disampingnya. "Dasar sinting!" Dala mencebik. 

Keduannya terdiam sejenak. Sayup-sayup terdengar gemuruh disertai angin dingin pertanda akan segera turun hujan. Dala mencuri pandang, lantas menghembuskan nafas berat– teringat kejadian tempo hari yang membuat pikirannya berkecambuk, perasaan yang gusar, juga patah hati.

Dala menengadahkan tangannya di hadapan Amig. "Apa?" Sejenak Amig menghentikan aktivitasnya. "Mau juga." Ia mengernyit, entah apa yang Dala maksud. Dala menunjuk sigaret diujung cari Amig dengan dagu, seketika raut wajah Amig berubah. 

"Nggak, nanti kena penyakit," Ucapnya dengan intonasi tegas. Sementara Dala kembali melayangkan tatapan tajam. "Aku mau cari kenikmatan juga, bukan kesehatan." Dala memutarbalikkan ucapan Amig beberapa menit yang lalu dan mendapat jentikan keras dipelipis, tentu saja Amig pelakunya. "Ngawur, nggak boleh pokoknya." Si pelaku bersungut-sungut. Dala mengusap pelipisnya. Alih-alih geram, ia malah tersenyum. Selalu ada kehangatan disetiap sentuhan tangan Amig, katanya. Karenanya, Dala senang saat bersama dengan Amig, walau pemilik hati lelaki itu bukan dirinya. Namun, dapat menghabiskan waktu dengan Amig saja sudah membuatnya bahagia, sebab kehangatan Amig yang menyelamatkan hidupnya. 

"Amig, terima kasih ya," ucap Dala sungguh-sungguh seraya menatap aksa legam Amig yang juga tengah memalingkan wajah padanya. Amig mengangkat sebelah alis "Terima kasih untuk apa?" Dala melebarkan senyum, lantas menatap lurus kedepan. "Nggak apa-apa. Intinya aku berterima kasih aja sama kamu." Meskipun kebingungan, Amig tetap mengangguk, tidak terlalu memusingkan ungkapan terima kasih yang terlontar dari bibir Dala.

Dala mendekat satu langkah disisi Amig. Ada yang bilang sendu tidak selalu tentang sedih, bisa juga berarti bahagia. Sebab, ia sudah bahagia dengan Amig disisinya, ia tahu menyukai bukan harus memiliki. Mungkin, Amig memang bukan rumah yang tepat untuknya. Karena sekarang ia paham, jalan pulang paling arif adalah dirinya sendiri.

ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ──────────────────

Kau datang
tatkala sinar senjaku telah redup
Dan pamit
ketika purnamaku penuh seutuhnya
Kau yang singgah tapi tak sungguh
Kau yang singgah tapi tak sungguh
Kukira kau rumah
Nyatanya kau cuma aku sewa

ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤ──────────────────

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤSELESAI



Komentar

Postingan populer dari blog ini